DENPASAR – Di tengah gempuran arus informasi digital yang serba cepat, SMP Kristen 1 Harapan Denpasar justru semakin memperkokoh jati dirinya sebagai Sekolah Aktif Literasi. Bukan sekadar slogan, sekolah ini telah mengintegrasikan budaya membaca, pengolahan pengetahuan, hingga kemampuan “meliterasikan kembali” sebagai bagian dari napas pendidikan sehari-hari.

Membangun Fondasi: Lebih dari Sekadar Membaca

Program literasi di SMP Kristen 1 Harapan dirancang untuk melampaui kegiatan mekanis membaca teks. Sekolah ini memahami bahwa literasi adalah pintu masuk menuju daya kritis. Setiap pagi, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, siswa diajak untuk menyelami dunia literasi melalui sesi khusus.

  • Pojok Baca Tematik: Tersedia di setiap sudut strategis sekolah untuk memudahkan akses siswa terhadap literasi.
  • Koleksi Beragam: Mulai dari literatur klasik, sains populer, hingga karya sastra kontemporer yang relevan dengan perkembangan remaja.

Proses Kreatif: Dari Konsumsi Menjadi Kontribusi

Salah satu keunikan SMP Kristen 1 Harapan adalah konsep “Meliterasikan Kembali”. Siswa tidak hanya diminta untuk menyerap informasi (konsumsi), tetapi juga didorong untuk mengolahnya kembali menjadi karya baru (produksi).

Beberapa kegiatan unggulannya meliputi:

  1. Resensi Kreatif: Siswa membuat ulasan buku dalam bentuk podcast, video singkat, atau esai kritis.
  2. Majalah Dinding & Digital: Wadah bagi siswa untuk memublikasikan karya tulis dan pemikiran mereka.
  3. Bedah Buku Berkala: Diskusi interaktif yang melatih keberanian berpendapat dan menghargai perspektif orang lain.

“Kami ingin siswa tidak hanya menjadi pembaca yang pasif, tetapi juga pemikir yang mampu merajut kembali pengetahuan yang mereka dapatkan menjadi sesuatu yang bermakna bagi lingkungan mereka,” ujar salah satu koordinator literasi sekolah.

Dampak Nyata bagi Siswa

Melalui lingkungan yang literat, siswa SMP Kristen 1 Harapan menunjukkan peningkatan signifikan dalam:

  • Kemampuan Analisis: Lebih teliti dalam menyaring informasi dan berita bohong (hoax).
  • Kekayaan Kosakata: Peningkatan keterampilan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.
  • Empati dan Wawasan: Memahami berbagai realitas dunia melalui buku-buku yang mereka lahap.

Penguatan Kompetensi: Workshop Jurnalistik Berbasis AI

Sebagai langkah nyata dalam penguatan literasi, para siswa petugas literasi kelas di  SMP Kristen 1 Harapan baru saja mengikuti serangkaian workshop khusus yang difasilitasi langsung oleh Yayasan Perguruan Kristen Harapan. Program ini dirancang untuk menjembatani literasi konvensional dengan tuntutan dunia digital saat ini.

Dalam workshop ini, fokus utama diberikan pada tiga pilar modern:

  1. Brainstorming Kreatif: Siswa dilatih untuk menggali ide berita yang relevan dan menarik bagi audiens sebaya mereka.
  2. Teknik Jurnalistik Dasar: Memahami etika jurnalistik, cara mencari fakta yang akurat, dan teknik wawancara.
  3. Proses Editing Cepat Berbasis AI: Mengikuti perkembangan zaman, siswa diajarkan cara memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) sebagai asisten kreatif dalam proses penyuntingan teks dan kurasi konten. Penggunaan AI ini bertujuan agar siswa mampu memproduksi karya literasi dengan lebih efisien tanpa mengesampingkan orisinalitas ide

Komitmen Berkelanjutan

Sebagai sekolah yang progresif, SMP Kristen 1 Harapan terus berinovasi dalam mengemas literasi agar tetap relevan dengan generasi Z dan Alpha. Dengan dukungan guru-guru yang juga berperan sebagai teladan literasi, sekolah ini optimis dapat mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman wawasan dan karakter yang kuat.