DENPASAR – Dalam upaya memperkuat literasi keuangan sejak dini, SMP Kristen 1 Harapan Denpasar resmi terpilih sebagai salah satu sekolah piloting dalam program implementasi Sekolah Rintisan Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah. Program ini merupakan kolaborasi strategis antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dengan Dinas Pendidikan setempat untuk menanamkan jiwa nasionalisme melalui mata uang negara.
Bukan Sekadar Alat Tukar
Program ini bertujuan untuk mengubah perspektif siswa terhadap Rupiah. Tidak hanya dilihat sebagai alat pembayaran, Rupiah diperkenalkan sebagai simbol kedaulatan negara yang harus dijaga dan dihormati.
Konsep CBP Rupiah sendiri terbagi menjadi tiga pilar utama:
- Cinta Rupiah: Mengenali ciri keaslian uang (3D: Dilihat, Diraba, Diterawang) dan merawat fisik uang agar tidak rusak.
- Bangga Rupiah: Memahami Rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah dan pemersatu bangsa.
- Paham Rupiah: Mengerti fungsi Rupiah dalam perputaran ekonomi, serta mulai belajar mengelola keuangan (menabung) secara bijak.
Implementasi di SMP Kristen 1 Harapan
Sebagai sekolah piloting, SMP Kristen 1 Harapan mengintegrasikan nilai-nilai literasi keuangan ini ke dalam berbagai aktivitas sekolah, antara lain:
- Integrasi Kurikulum: Memasukkan materi CBP Rupiah ke dalam mata pelajaran IPS dan Pendidikan Pancasila.
- Duta Rupiah Pelajar: Pembentukan perwakilan siswa yang bertugas menjadi edukator bagi rekan sejawat mengenai cara memperlakukan uang dengan benar.
- Pojok Literasi Keuangan: Penyediaan fasilitas informasi mengenai sejarah uang dan sistem pembayaran digital yang aman.
Kepala Sekolah SMP Kristen 1 Harapan menyatakan bahwa terpilihnya sekolah ini merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang cerdas secara finansial sekaligus memiliki rasa cinta tanah air yang kuat.
Dukungan Bank Indonesia Provinsi Bali
Pihak Bank Indonesia menekankan bahwa Bali, sebagai pusat pariwisata internasional, menjadi wilayah krusial untuk penguatan literasi Rupiah. Dengan tingginya perputaran mata uang asing, pelajar di Bali diharapkan tetap menjadikan Rupiah sebagai “tuan rumah” di negeri sendiri.
“Literasi keuangan bukan sekadar tahu cara membelanjakan uang, tapi tahu cara menghargai identitas bangsa yang ada di setiap lembar uang tersebut.”
Dampak Jangka Panjang
Melalui program sekolah rintisan ini, diharapkan para siswa tidak hanya terhindar dari peredaran uang palsu, tetapi juga memiliki kebiasaan menabung dan investasi yang sehat sejak SMP. Jika proyek di SMP Kristen 1 Harapan ini sukses, model edukasi serupa akan direplikasi ke berbagai sekolah menengah di seluruh Provinsi Bali.




